Posted in Travel

Discover Sumba Barat dan Sumba Barat Daya [Day 1-2]

I’m in love with my country..I love Indonesia!!

Kata-kata itulah yang selalu kuingat dan selalu terucap ketika menjelajah tempat-tempat yang indah di bumi pertiwi ini. Selalu bersyukur rasanya aku dilahirkan di negeri ini dengan kekayaan alam yang tiada habisnya. Sebagai manusia dengan tingkat keinginan ‘berkelana’ yang cukup tinggi, rasanya tidak akan habis menyusuri seluruh indonesia.

Kali ini aku berkunjung ke Tanah Sumba. Perjalananku ini kulakukan pada bulan Desember 2018. Sumba yang mulai naik daun dikalangan wisatawan sejak beberapa tahun lalu ini (sejak beberapa film mengambil lokasi syuting disana), memang indahnya gak boong. Cakep bener deh kalo untuk landscape alamnya Juara!

Seperti umumnya traveler, wisatawan, pelancong, turis atau apapun itu sebutannya, perjalananku di Sumba di mulai dari Sumba Barat dan berakhir di Sumba Timur. Bandara Tambolaka di Sumba Barat adalah gerbang pertama ku menginjakkan kaki di pulau ini. Dari bandara kita menggunakan fasilitas penjemputan yang disediakan oleh hotel Sinar Tambolaka tempat kami akan menginap. Berhubung kami sampai disana sore, kami bisa memanfaatkan untuk mengunjungi tempat pertama, yang setelah googling dulu di hotel kami memutuskan untuk mengunjungi Bukit Lendongara yang lokasinya cukup terjangkau.

Bandara Tambolaka – Sumba Barat

Esoknya dimulailah roadtrip kami menjelajah sumba. Dengan mobil sewaan plus driver, setelah mempertimbangkan rute ini itu, akhirnya kami memutuskan untuk mengunjungi Danau Weekuri terlebih dahulu. Danau cantik yang dengan warna hijau kebiruan ini sebenarnya sangat ‘cemplung-able’ banget, namun aku memutuskan hanya menikmati pemandangan dari atas saja karena masih pagi dan baru mandi (haha). Setelah puas menikmati keindahan danau, perjalanan dilanjutkan ke Pantai Mandorak yang lokasinya masih berdekatan. Tak lama kami disini, sebenarnya pemandangan cukup indah namun yang membuat kurang ‘betah’ disini karena beberapa anak kecil yang menjual pernak pernik namun terkesan memaksa (sebelumnya kami sudah diinfo oleh driver kami kalau didaerah ini sebaiknya jangan berikan apapun ke anak-anak ini) namanya kan kasian yak ingin sekedar memberi makanan atau permen namun teringat perkataan bapak tadi akupun mengurungkan niat. Memang terlihat sih, dari dua anak yang kutemui, yang lebih muda hanya menawarkan dengan biasa saja, namun kemudian kulihat si kakak membisikkan sesuatu bahkan saat ku tinggalkan mereka pergi, si kakak pun meneriakkan kata-kata yang tak kumengerti. Ah sudahlah, dalam hati ku berdoa semoga pendidikan di daerah ini bisa berkembang semakin baik sehingga mereka pun bisa mendapatkan pendidikan yang layak.

Danau Weekuri yang cemplung-able banget
Tenun sumba yang dijual disekitar weekuri
Pantai Mandorak

Next destination, kami menuju kampung adat yang sudah terkenal itu. Ya Kampung adat Ratenggaro. Kampung adat ini hampir selalu ada di setiap open trip atau wisata Sumba. Menuju kampung adat ini terlihat banyak kubur batu yang dari ceritanya untuk membuat kubur batu ini mereka mengadakan upacara yang biayanya bisa mencapai puluhan bahkan ratusan juta rupiah (dalam hati kupikir berarti orang sumba kaya-kaya yak). Belum lagi untuk acara pernikahan dengan tahapan adat yang cukup panjang dan menelan biaya yang cukup besaaaarr (kalo mau nikah modalnya plus berpuluh-puluh kuda dan hewan ternak lainnya). Di desa ini kita bisa melihat rumah adat sumba yang letaknya cukup dekat dengan pantai juga. Bagi yang ingin mencoba menunggang kuda Sumba untuk sekedar mengambil foto juga bisa dengan biaya 20 ribu rupiah.

Sorenya kami menikmati sore (niatnya menunggu sunset yang gak jadi karena mendung) di Tanjung Mareha. Dari sini kami juga bisa melihat Pantai Mbawana yang terkenal dengan karang bolongnya. Sekedar menghabiskan waktu sore disini adalah kenyamanan tersendiri karena di tempat ini cukup sepi dan kita bisa sekedar menikmati suara ombak dan semilir angin pantai. Jujur tempat seperti ini sudah susah ditemui di tempat wisata apalagi kalo kita perginya pas waktu liburan karena tempat wisata udah penuh dengan orang-orang yang sibuk pota-poto sana sini sampai mereka melupakan esensi pergi ke alam adalah menikmati keindahannya, menikmati ciptaan Tuhan, bukan sekedar foto-foto saja karena foto yang paling indah adalah yang kita tangkap dengan lensa mata kita sendiri dan kita rekam dalam rekaman ingatan kita. Jujur akupun begitu dalam hal mencari foto-foto cantik di setiap tempat yang kukunjungi. Namun biasanya tak lupa kusempatkan juga waktu untuk sekedar menikmati alam.

Tanjung Mareha
Karang bolong di Pantai Mbawana
Sinar matahari ditengah laut

Rute perjalanan hari ini benar-benar rute menuju tempat wisata yang jarang melewati perkampungan penduduk. Jadi kalo buat cari makan siang bener-bener susah kalo mau dibilang gak ada. Jadi kalo mau seharian muter Sumba Barat dan Sumba Barat Daya jangan lupa bawa bekal yang banyak..

Next day journey to be continued di next post..

Posted in Travel

ke Purwakarta ku kan kembali (or not?)

Every Journey..has it’s own Stories..

Kata-kata diatas mungkin cocok banget dengan apa yang sering gw alami. Sebagai manusia biasa yang sukanya travelling dan jalan-jalan kesana kemari, gw suka bingung kalo harus ditanya tempat atau kota mana yang berkesan untuk dikunjungi. Karena menurut gw setiap perjalanan punya cerita berkesan masing-masing, entah cerita berkesan karena tempatnya yang indah banget (when you found a place beyond your expectation or the unexpected one), cerita lucu selama perjalanan yang kalo diinget selalu sukses bikin ngakak sampai sakit perut, cerita banyak kejadiaan gak terduga selama perjalanan yang bikin itin jadi kacau (mungkin ini salah satu penyebab gw gak suka bikin itin karena lebih suka spontaneous experience dan kalo itin gagal gak sedih-sedih amat gitu) dan kadang ada juga pengalaman yang bikin kesel selama perjalanan.

Dan untuk cerita pertama gw putuskan untuk menulis kisah perjalanan terakhir gw ke Purwakarta karena masih fresh dalam ingatan kejadian apa aja yang bikin perjalanan jadi ber-KESAN-gitu lah. Jadi ceritanya gw dan dua temen gw merealisasikan salah satu list jalan-jalan kami ke Purwakarta. Kita bertiga pergi kesana pas weekend, pengen banget pergi kesana cuma pengen nonton pertunjukan Air Mancur Sri Baduga yang katanya bagus dan pertunjukan air paling terbesar di Indonesia. Kebetulan pas ngerencanain tanggal jadi buat ke Purwakarta ini, kita bertiga udah beda-beda lokasi karena lokasi project yang beda, jadi kita berangkat masing-masing ketemu di kereta dan ketemu langsung di Purwakarta.

Gw dari jakarta naik kereta lokal yang murah meriah Walahar Ekspress jurusan Tanjung Priuk-Purwakarta. Harganya 6000 rupiah aja tapi berhubung gw gak naik dari stasiun pertama jadilah kita berdiri di kereta sampe di stasiun Kosambi baru kita dapet duduk. Sampe di Stasiun Purwakarta sekitar jam 19.30 malem kita langsung menuju hotel dimana temen gw yang satu lagi dari Bandung udah sampe hotel. Dengan dianter abang gocar yang baik hati (beruntunglah di jaman sekarang yang serba mudah, udah gak repot lagi cari transportasi umum) kita sampe di hotel dan kesan pertama kita oke nih hotel, emang baca review di situs online pada ngereview oke setelah hotel direnovasi. Setelah istirahat bentaran di hotel kita keluar lagi buat cari makan, lagi di Purwakarta kan ya pasti yang dicari Sate Maranggi dong ya, jadi kita langsung menuju ke Sate Maranggi Hj. Yetty yang katanya terkenal dan rekomen buat dikunjungi. Tapi sayangnya pas kita sampe sana (udah malem juga sih) baru mau masuk bapak parkirnya uda tereak-tereak aja kalo udah abis. Yaudahlah, menu makan pertama gagal dan berhubung udah kelaperan kita makan pecel lele gak jauh dari tempat sate itu.

Jadwal kereta Jakarta-Purwakarta update Juli 2019

Besoknya, setelah cari-cari tempat yang bisa dikunjungi, kita memutuskan untuk pergi ke Waduk Jatiluhur karena tujuan utamanya kan malem mau nonton air mancur, pagi sampe siang tujuan bebas. Lagi-lagi kita pesen grabcar buat anterin ke Waduk Jatiluhur. Nahh yang mulai bikin kita gelo, sedih, kecewa dan ngerasa salah waktu berkunjung, adalah pas ngobrol-ngobrol sama abang grabcarnya, doi ngasi tau kalo pagi itu doi dapet kabar kalo si Air Mancur Sri Baduga itu (iya, yang mau kita kunjungin itu) sementara gak beroperasi (mulai malem itu) karena katanya debit air nya kurang karena mulai musim kemarau jadi pertunjukan kalo diadakan kurang maksimal bahkan bisa merusak properti dan peralatannya. Yahh, kita uda mulai mengeluh yahh yahh selama perjalanan, tapi akhirnya ya udahlahh kita liat ntar sore aja main kesana kalau gak ada yasudah mo gimana lagi (masak iya kita mo guling-guling marah-marah kesel cuma gara-gara air mancur haha).

Sampe di Waduk Jatiluhur kita  malah bingung mau ngapain, kita cuma poto-poto di tulisan “Waduk Jatiluhur”, ngeliatin dari luar si Restoran Apung yang lagi ditutup, sama duduk aja di Istora Deck View. Gak lama kita disana dan akhirnya mutusin buat balik makan aja. Karena susah cari grabcar atau gocar darisana akhirnyapunn menunggu angkot lewat. Berhubung abang angkot tak kunjung datang dan kitaa menemukan kursi di pinggir jalan jadilah kita nongkrong sambil foto-foto selfie dan disaat lagi foto-foto satu angkotpun lewat. Nunggu lagi dehh..foto lagi deehh..dan tak lama dari kejauhan terlihat warna merah si mobil angkot. Saat angkot mendekat buru-buru kita tereak-tereak manggil si abang sambil beberes barang-barang (parahnya kita lupa ninggalin sampah di meja, maapkeunn ya bapak yang beresin disana, kita bener-bener lupa gak sengaja). Finally kita naik angkot dann bru jalan mungkin 20 meter saja angkotnya mogok dooongg..iyaa beneran mogok sampai kita dioper nunggu lagi sampe angkot dibelakangnya dateng. Kita naek angkot sampe ke daerah bunder dan ongkos angkotnya 20000 buat tiga orang (angkot wana merah no.011 Jurusan Jatiluhur-Ciganea), nyambung grabcar kita akhirnya balik lagi ke Sate Maranggi Hj. Yetty buat makan siang. Setelah perut kenyang dan gak tau mau kemana lagi, pulanglah kita ke hotel sambil menunggu sore.

Sorenya waktu yang dinanti-nantikan akhirnya tiba, kita pergi ke lokasi Air Mancur Sri Baduga Situ Buleud walaupun sebelumnya di hotel kita baru baca news di TribunJabar kalo Air Terjun sementara tidak beroperasi sampai waktu yang akan diinfokan selanjutnya. Lumayan banyak orang yang jalan sore dan kulineran (mungkin) disana tapi taman air mancurnya pun gak bisa masuk ke dalam jadinya kita cuma ngeliatin aja dari luar. Lagi-lagi gak lama kita disana, jalan ngebolang lagi menyusuri Jalan R.E Martadinata, ngelongok bentar ke Alun-Alun, dan Jalan Sudirman. Tujuan awalnya sih mau cari Es Ciming aja (ini juga random karena abis baca artikel kalo konon es ini terkenal di Purwakarta dan sudah lama berdiri), belum juga sampai disana ternyata acara tari kolosal di Jalan Sudirman udah mau mulai. Kebetulan kita kesana pas lagi minggu-minggu perayaan Hari Ulang Tahun Kabupaten Purwakarta, dan malem itu acaranya pertunjukan Tari Jaipong oleh 1000 penari (gak ngitung juga sih beneran 1000 atau enggak itu boca-bocah haha). Lumayan lah pas kesini pas ada festival nontonin bocah-bocah menari di sepanjang jalan.

Tiket masuk kawasan Jatiluhur (Juli 2019)
Numpang foto
Ini dia pengumuman yang bikin kecewa tingkat dewa 😦
suasana festival tari jaipong

Abis nonton festival dan makan es ciming, tadinya mau lanjut ke Kedai Koka cari Surabi, namun apalah daya kaki sudah lelah perut belum terlalu laper akhirnya pulanglah kita ke hotel daaann another case happen. Sampe di hotel ternyata hotel kita lagi mati lampu coba padahal di jalan tadi gak ada yang mati dan parahnya gak semua kamar di hotel mati (katanya sihh jaringannya beda dan kamar kita termasuk yang mati). Kejadian yang bikin kesel temen gw (gw nya gak ikut-ikut karena udah lelah jadi mojok aja nongkrong di pojokan), mereka tanya dan komplein ke petugas, eh katanya mereka dicuekin bilang mati aja gitu listriknya, minta lilin dicuekin pula (kezell gak tuh abis capek jalan seharian malah digituin). Untungnya mati lampunya gak lama dan sebelumnya akhirnya kita dipinjemin emergency lamp.

PS: Nama hotel sengaja banget gak gw sebut-sebut dari tadi karena ada kejadian gak enak tersebut dan lagi gak pengen ngereview hotel di tulisan ini (biarlah kami mereview dan memberikan kritik dan saran di situs online tempat kami memesan hotel)

Next day, pagi pun tiba dan kita tak punya tujuan lagi selain temen gw mau cari oleh-oleh. Setelah beberes kita jalan kaki lagi (Ya..lagi) ke Galeri Menong di daerah jalan Veteran, cari makanan yang bisa dibawa oleh-oleh, balik lagi ke hotel nungguin Dhuhur dan Check Out, terus langsung cuss ke Stasiun Purwakarta untuk kembali ke kota masing-masing.

Okeii..segitu dulu cerita kali ini, dengan niat jalan yang gak kesampaian akhirnya random jalan cari tujuan disana dan mungkin lain kali (yes or no?) harus balik lagi buat nonton pertunjukan Air Mancurnya aja (semoga aja pas kesana lagi gak zonkk ditutup lagi).

Have a nice dayy!! Jangan pernah kapok sama setiap perjalananmu karena selalu pasti ada yang menarik buat diceritakan.

Posted in Thought

First Step is the Hardest Step

They said it’s never too late to start something new…Better late than never, right!

Finally after sooo many years considering and never ending postponed, i’m trying to make my own blog. Even though i’m still not decided the content, maybe just a random thinking, little story about my daily, or story about my travelling but for me this mean i finally success to begin my first step to start something new 😊.

But i’m still make this blog just for myself. Just wanna make a bunch of my story, my thought, and improve myself through journaling. And the most importance one, is to make my future self learning from the old me, to make myself laugh and shaking my head when i read what happen to me in the past and to write everything that i remember about my life memories.

First Step